Pelatihan Pemandu Pendalaman Iman dan Ibadat, Ajakan Bagi Umat Membangun Persekutuan Gereja
Oleh Petrus Riski
23 April 2026
Paroki Hati Kudus Yesus Surabaya menyelenggarakan Pelatihan Pemandu Pendalamam Iman/ Ibadat, Rabu 22 April 2026, di Aula lantai 2. Pelatihan dalam rangka Lustrum ke XXI Paroki Hati Kudus Yesus ini diikuti perwakilan umat dari setiap lingkungan dan asisten imam ini, menghadirkan pemateri dari Pusat Pastoral Keuskupan Surabaya, bagian Komisi Kateketik Keuskupan Surabaya.
Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus, RD Cornelius Triwidya Tjahja Utama, berharap pelatihan pemandu pendalaman iman dan ibadat ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh umat di lingkungan dan wilayah.
“Kami berharap semakin banyak umat yang terlibat sebagai pemandu di lingkungan, dengan bimbingan dari para pemateri,” kata Romo Tommy, sapaan akrabnya.
Materi yang dibawakan oleh Kasimirus, Citra, dan Melani, mengajak umat untuk bersama-sama belajar menjadi pemandu di lingkungan masing-masing, dengan belajar mengenai cara memandu, bagaimana mempersiapkan diri sebelum memandu, dan praktik memandu dalam kelompok kecil.
“Umat yang hadir di sini tentunya sudah dibaptis cukup lama, artinya semua memiliki potensi yang sama sebagai pewarta, sehingga semua bisa menjadi pemandu melalui persiapan-persiapan,” kata Citra.
Sedangkan Kasimirus, menekankan pentingnya seorang pemandu di lingkungan, terlebih bila jumlah imam di suatu lingkungan atau stasi sangat kurang. Selain itu, setiap pemandu perlu memiliki teknik mempelajari dan menguasai bahan yang akan disampaikan saat pendalaman iman atau ibadat.
“Mempersiapkan dengan mempelajari bahan terlebih dahulu itu syarat utama sebelum memandu, terlebih bahan yang akan diberikan harus sudah dikuasai dan dipahami,” ujar Kasimirus.
Seorang pemandu ibadat atau pendalaman iman, lanjutnya, harus mampu memfasilitasi dan mengelola pertemuan, sehingga umat yang hadir merasa jadi bagian dari kelompok dan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.
Menjadi pemandu, kata Kasimerus, merupakan panggilan yang tidak dapat dipaksakan. Tekad seseorang yang sangat kuat dalam melakukan sesuatu merupakan panggilan jiwa, meskipun secara dasar keilmuan maupun kemampuan dan keterampilan masih kurang. Namun, berbekal kemauan kuat dan usaha untuk setia pada apa yang dilakukan, maka panggilan Tuhan sebagai pemandu itu memungkinkan seseorang untuk bisa melakukan dan dimampukan.
“Dalam 1 Korintus 1:26-31, bagaimana manusia dipanggil menurut kehendak Allah, bukan menurut pemikiran dan ukuran manusia itu sendiri,” imbuhnya.
Kasimirus menyebut, seseorang yang terpanggil dan diutus oleh Allah, maka lingkungan di sekitarnya akan mendorong untuk maju dan memberikan diri. Kemudian muncul keputusan dari dalam diri untuk melayani.
“Daya tariknya bukan optimisme, tapi harapan. Dan itu memunculkan kreativitas, otentikasi, kebebasan, serta pertumbuhan pribadi dan iman,” ujarnya.
Selain sebagai panggilan, Kasimirus mengatakan bahwa menjadi pemandu berarti turut membangun persekutuan, dan menjadi murid yang berperan sebagai guru bagi sesamanya. Maka, imbuhnya, panggilan sebagai pemandu sungguh mulia, karena turut membangun persekutuan Gereja, dimana inti Gereja adalah persekutuan iman akan Kristus.
“Perlu persiapan dengan mempelajari sungguh-sungguh, dengan rendah hati menyadari sisi misteri dari bahan yang akan disampaikan atau diajarkan. Maka, apa yang dibicarakan harus apa yang dihayati, dipahami, diketahui, dan yang diajarkan oleh Gereja,” tandasnya.
Gambar oleh : Petrus Riski
Penulis dan Editor: Petrus Riski