Background MobileBackground Desktop

Gereja Katedral HKY Sambut 58 Bhikkhu Sangha Peserta Indonesia Walk for Peace 2026

Oleh Petrus Riski

16 Mei 2026

Gereja Katedral HKY Sambut 58 Bhikkhu Sangha Peserta Indonesia Walk for Peace 2026



Surabaya – Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya dikunjungi 58 Bhikkhu Buddha yang sedang melakukan Thudoong atau perjalanan jauh dengan berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah sejauh kurang lebih 650 kilometer. Persinggahan para Bhikkhu Sangha dari 4 negara di Asia Tenggara ini merupakan rangkaian kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026 dalam rangka Hari Raya Waisak.


Para Bhikkhu ini berasal dari Tailan (43 orang), Malaysia (4 orang), Laos (3 orang), dan Indonesia (8 orang) ini tiba di halaman gereja Katedral Surabaya, Jumat (15/5/2026) pukul 14.40 WIB, setelah sebelumnya singgah di Balai Kota Surabaya dan Gedung Negara Grahadi. Kedatangan mereka disambut Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus beserta para Romo Keuskupan, para suster dan biarawati dari sejumah tarekat, dan umat paroki, bersama umat Buddha dan umat lintas agama di Surabaya.


Beberapa di antara para Bhikkhu ini membawa bunga mawar, dan diberikan kepada Uskup Agustinus Tri Budi Utomo yang menyambut di halaman gereja Katedral. Rombongan para Bhikkhu Sangha ini kemudian memasuki Plaza Maria dan duduk di kursi yang telah disiapkan sebelumnya. Mereka datang untuk singgah dan beristirahat sejenak sebelum melanjutan perjalanan mereka ke perhentian selanjutnya. Para Bhikkhu ini berangkat dari Denpasar, Bali, pada 7 Mei, dan diperkirakan sampai di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026.


“Di Jawa Timur menempuh perjalanan selama 11 hari, melintasi 9 kabupaten dan kota,” kata Irwan Pontoh, Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace, Jawa Timur.


Sementara itu, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo dalam sambutannya, mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaan dapat menyambut langkah-langkah damai dan perjalanan spiritual para Bhikkhu yang singgah di gereja Katedral Surabaya. Uskup Agustinus mengenalkan secara singkat sejarah bangunan gereja Katedral kepada para tamu yang hadir.


Thudoong atau perjalanan yang ditempuh dengan jarak yang cukup jauh dengan berjalan kaki, menurut Uskup, mengingatkan kita semua pada hakikat terdalam eksistensi manusia, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan.


“Dalam tradisi Gereja Katolik, kami sedang menghidupi semangat yang disebut sebagai Sinodalitas, yang secara harfiah berarti ‘Berjalan Bersama’. Misi Gereja Katolik bukanlah berjalan sendirian dalam eksklusivitas, melainkan berjalan beriringan dengan semua orang, tanpa memandang perbedaan keyakinan, untuk mewujudkan bumi manusia yang damai, sejahtera, berbudi pekerti luhur, dan penuh bela rasa,” ungkap Romo Uskup Didik, sapaan akrabnya.


Uskup mengungkapkan, tujuan akhir perjalanan para Bhikkhu adalah Borobudur, sebuah monumen iman yang merupakan sebuah Mandala. Ia adalah representasi kosmos sekaligus peta spiritual, sebuah jalan menuju pencerahan dan persatuan dengan Ilahi. Romo Uskup meyakini, bahwa langkah-langkah kaki para pembawa perdamaian dari Bali menuju Borobudur ini bukanlah sekadar perpindahan spasial atau perjalanan fisik dari satu titik geografis ke titik lainnya.


“Lebih dari itu, perjalanan ini adalah sebuah ziarah menyusuri Mandala spiritual. Anda sedang bergerak dari kekacauan (chaos) duniawi menuju kedamaian sejati, memurnikan batin di sepanjang aspal dan debu jalanan,” kata Uskup Didik.


“Kami menitipkan satu doa di pundak Anda. Doakanlah bangsa Indonesia agar senantiasa menjadi bangsa yang damai, adil, dan menjunjung tinggi persaudaraan insani,” pungkas Uskup Didik.


Rombongan kemudian berjalan menuju Vihara Buddhayana Putat Gede, Surabaya, dan akan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya menuju Mojokerto.

Penulis dan Editor: Petrus Riski

Foto-foto: Petrus Riski